SEJARAH PENDIRIAN DAYAH DARUL YAQIN

Pada mulanya setelah Tgk. H.Ibrahim Abidin pulang ke kampung halamannya setelah menyelesaikan pendidikan di beberapa Dayah yang ada di Aceh, ia hanya ingin mengembangkan dan memberikan pengetahuan yang ada pada dirinya kepada masyarakat yang ada di kampung halamannya, tidak ada inisiatif dari Beliau untuk membuat suatu dayah atau pasantren.
            Pada saat itu Beliau hanya mendirikan balai pengajian sekedarnya untuk mengajarkan ilmu agama kepada orang yang ingin belajar kepada Beliau.saat itulah beliau melihat ada anak didiknya mempunyai bakat untuk menjadi generasi penerus untuk menyebarkan ilmu Islam, kemudian Beliau mengusulkan kepada Wali murid tersebut agar kiranya murid yang mempunyai bakat untuk diserahkan kepada dayah yang pernah disinggahi beliau untuk menuntut ilmu.
            Kemudian Beliau ikut mengantarkan anak didik beliau ke dayah tersebut.setelah berlalu beberapa tahun, anak didik beliau tersebut kembali kampung halaman setelah menyelesaikan pendidikan didayah.kemudian mengusulkan pendapat agar kiranya Tgk.H.ibrahim Abidin (Abu) mendirikan suatu dayah, dan mereka siap membantu untuk mendirikan dayah tersebut sebagai tenaga pengajar. Inisiatif mendirikan dayah adalah inisiatif dari murid-murid beliau tersebut.kemudian beliau menyetujui pendapat tersebut
            Setelah Dayah terbentuk pada tahun 2000,selanjutnya di usahakan penyediaan sarana fisik.pada hari ahad tanggal 1 mei 2000 dayah baru ini mendapat waqaf tanah seluas 1000 meter dan setelah diupayakan pembebasan-pembebasan lebih lanjut dayah memiliki tanah seluas 3000 m2 atas  kebaikan hati pemberi waqaf yang berkenan menjual tanahnya yang posisinya bersebelahan dengan tanah yang telah di waqafkan tersebut.
            Pembangunan komplek dayah diselenggarakan atas bantuan pemerintah,danatur dan masyarakat setempat dalam bentuk bangunan, dan disamping itu juga ada yang memberi uang untuk membeli bahan bangunan  pada tanggal 3 mei 2000 dengan prosesi acara peresmian,di mulailah komplek pesanten,ketika itu peresmian dilakukan oleh Teungku selaku pengasuh dayah dan dihadiri oleh beberapa ulama ternama di Aceh.
                Berlainan dengan dayah atau pasantren pada umumnya di Aceh, Dayah Darul Yaqin pada mulanya tidak memiliki santri yang belajar dan mukim di dayah. Mereka masing-masing pulang pergi kerumah masing-masing. sebab belum adanya tempat penginapan dayah ini diselenggarakan berbagai macam jenjang pendidikan dari tingkat Ibtidaiyah sampai tingkat ‘Aliyah. Namun ketika mualim memasuki usia senja, Beliau bermaksud merintis kaderisasi keulamaan di tandai dengan di bukannya tingkatan takhasus dengan membatasi santri yang telah menamati tingkatan ‘Aliyah. Pembatasan ini semata-mata karena daya tampung dan lokal,bahkan tenaga pengajar tidak cukup mampu untuk menampung santri lebih banyak. Sebutan bagi kader ulama ini disebut dengan santri exclusive. Dayah Darul Yaqin mempunyai visi :”menjadikan dayah darul yaqin sebagai Dayah salafi Sunni yang bermazhab Syafi’I yang unggul dalam ilmu ke islaman meliputi Tauhid, Fiqh, dan Tasawwuf.”
Sedangkan misi yang di bawa adalah :
1.      Menghasilkan lulusan maha santri yang memiliki ke unggulan kompotitif dalam bidang-bidang ilmu ke islaman.
2.      Melakukan reintegrasi ilmu-ilmu ke islaman.
3.      Mengembangkan ilmu keislaman melalui kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat
4.      Memberikan konstribusi kualitas hidup berbangsa  dan bernegara terutama dalam upaya mengembangkan wawasan ke islaman yang baik,menyejukkan dan membawa rahmatal lil’alamin

Comments