Akidahkarya guru

Mu'tazilah vs Mujassimah dalam perspektif pemahaman terhadap Arsy dan kursi


    Arsy
 adalah bentuk mashdar dari kata kerja ‘arasya – ya‘risyu – ‘arsyan (عَرَشَ يَعْرِشُ عَرْشًا) yang berarti bangunan, singgasana, istana atau tahta. Arsy merupakan makhluk tertinggi (derajat) berupa singgasana, seperti di ibaratkan Kubah yang memiliki tiang-tiang yang dipikul dan dikelilingi oleh para Malaikat. Arsy disebutkan dalam Al Qur'an 33x yang memiliki banyak maknanya dan berkedudukan yang tinggi. 

kursi adalah ciptaan Allah yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaanNya

   Aliran Mu'tazilah adalah satu kaum yang beri'tiqad bahwa baik dan buruk ditentukan oleh 'aqal. mana, yang baik kata 'aqal maka baiklah ia dan mana yang buruk kata 'aqal maka buruklah ia. yaitu sebagai contoh yang menafikan peristiwa mi'raj, bangkit kubur, dan siksa kubur. salah satu pemuka/tokoh Mu'tazilah ialah Zamakhsyari (w 538 H)

    sedangkan Aliran Mujassimah ada sebagian disebut Aliran musyabbihah adalah satu kaum yang menyerupakan Tuhan dengan Makhluk, mereka berfatwa Allah bertangan, bermuka, berkaki, bertubuh seperti manusia. salah satu pemuka/tokoh Mujassimah ialah Abu Abdillah Al Warraq, Qadhi Abu Ja'la Muhammad bin Husein bin khalaf dll. termasuk penerus Mujassimah ialah Ahmad Taqiyuddin ( Ibnu Taimiyah)-W 724 H, Ibnu Qayyim Al Jauzi, sehingga ulama kontemporer yaitu Al Bani, Utsaimin, dan ibn Bazz.

    Perspektif kedua kaum ini pada pemahaman terhadap Arsy memiliki tolak ukur yang berbeda, di antaranya: 

    Mu'tazilah menafikan alias tidak meyaqini adanya Arsy. didalam Tafsir Al-Kasy-syaf karya Imam Mu'tazilah Zamakhsyari jil.1 hal 153-154. ia mengatakan secara terang-terangan 

" Kursi Tuhan tidak akan muat dalam langit dan bumi ini, maka dimana diletakkannya? itu hanya gambaran  kebesaran Tuhan dan hanya khayalan saja, tidak ada kursi di sana "

    hal demikian di komentari oleh imam Nasbiruddin Al Maliki dalam karyanya Kitab Al Intishaf:

    perkataan Zamakhsyari ini benar-benar meremehkan Al Quran dan tidak sopan terhadap Allah dengan kata-kata "Khayal" atau "Fantasi", kata-kata ini kebiasaanya dipakai dengan menerangkan seuatu yang Bathil dan dongeng semata.

    Kaum Mu'tazilah percaya kepada Al Qur'an akan tetapi kalimat Arsy dan Kursi yang tercantum dalam Al Qur'an memutar artinya Arsy berarti "Kerajaan" dan Kursi berarti "pengetahuan"

    Dalam hal ini Ahlusunnah waljamaah menyebutkan kerancuan pola pikir mu'tazilah dengan perkataan Allah 

Allah berfirman:

    وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ

Artinya : Kursi Tuhan Itu Luas meliputi langit dan bumi ( Al Baqarah: 255)

    kalau Kursi di artikan sebagai "ilmu" atau pengetahuan sebagaimana dikatakan oleh imam mu'tazilah Zamakhsyari maka sangat janggal lah dan tidak sesuai lagi dengan kebenaran yang berpolemik ilmu atau pengetahuan Allah memiliki batas pada cakupan langit dan bumi, sehingga timbul pertanyaan apakah yang diluar langit dan bumi tidak diketahui oleh Tuhan?
    padahal Allah mengetahui tiap-tiap sesuatu sebagaiamana firman Nya

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya : Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dalam perihal Arsy Allah berfirman: 

    وَٱلْمَلَكُ عَلَىٰٓ أَرْجَآئِهَا ۚ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَٰنِيَةٌ

Artinya: Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. (Al haqqah:17)

    Ayat ini sharih bahwa Arsy itu dipikul oleh delapan malaikat. kalau Arsy dalam ayat ini diartikan sebagai kerajaan sebagaimana tafsir mu'tazilah, maka timbul pertanyaan kita apakah kerajaannya Allah bisa dipikul oleh delapan malaikat?

    dalam hal ini yang Haq ( benar) ialah i'tiqad ahlusunnah wal jamaah bahwa Arsy dan Kursi ada, dan yang memberi tahu kepada kita atas adanya ialah Al qur'an.
    
    Adapun Hakikat zatnya, bentuknya, rupanya, warnanya, dan besarnya kita tidak tahu dan tidak diwajibkan untuk mengetahuinya menurut syariat. yang diwajibkan ialah meyakini adanya, dan lainnya tidak.


    Sedangkan menurut Mujassimah mereka meyaqini Arsy dan Kursi bahkan yang sakral nya mereka mengatakan Allah bersemayam di arsy dengan duduk bersela di Arsy sebagaimana dalam firman Allah surat Thaha :5 dan perkataan mereka dalam kitab-kitab karangannya seperti "Al Munazharah fil Aqidah Wasithiyah dan Al Aqidah Hawamiyah al Kura" ia terangkan bahwa dasar mazhabnya ialah mengartikan ayat-ayat dan hadits-hadits nabi yang bertalian dengan sifat tuhan menurut arti lafadznya yang lahir yakni secara harfiyah.

    penulis mengambil kesimpulan Bahwa 
1. Arsy dan kursi diwajibkan meyakini adanya ia, tidak diwajibkan menmgenai sifat nya ia. 
2. Mu'tazilah menafikan Arsy dan Kursi karena tidak masuk akal, sedangkan Mujassimah/Musyabbihah ialah meyakini adanya bahkan Tuhan bersemayam alias duduk di Arsy dan kursi
3. kaum Mu'tazilah dan mujassimah ialah kaum yang rancu dan menyeleweng I'tiqadnya.

    saran penulis
semoga bermanfaat, dan bijaklah dalam ber i'tiqad. i'tiqad yang benar ialah I'tiqad Ahlusunnah Waljamaah. wallahu a'lam bishhawab




Penulis: Tgk. Noer Muhammad Al Khatamy, S.Pd

No comments:

Post a Comment